[Easy] 13 gaya pacaran orang jerman dengan Mudah

Pada artikel ini kami akan menjelaskan gaya pacaran orang jerman Kamu bisa cek penjelasan lengkap dari kami. Karena kebetulan kami pernah mengalaminya dan ingin sharing di artikel ini.

Halooo…

Selamat siang dari München yang hujan dan berangin… lagi-lagi agak terlambat posting artikel baru karena sampai hari ini saya masih (sok) sibuk kesana-kemari 😉

Beberapa hari yang lalu saya membaca berita tentang gunung Agung di Bali yang mulai “rewel“ lagi. Langsung jleb gitu di dada waktu membaca beritanya. Inilah yang sempat saya dan Mr.K khawatirkan beberapa bulan yang lalu menjelang hari pernikahan kami yang dilangsungkan di Bali (Baca juga: Menikah di Bali). Tapi syukur Puji Tuhan, bulan Mei yang lalu gunung Agung masih tertidur lelap. Hari-H pun berjalan dengan lancar tanpa adegan penerbangan yang dibatalkan atau bahkan penutupan bandara. Tuhan Yesus amat baik. DIA berkenan mengabulkan doa-doa kami 🙂 Semoga gunung Agung cepat kembali terlelap dan kejadian ini tidak akan berdampak besar bagi kehidupan masyarakat di Bali.

Anyway… hidup memang penuh misteri. Saya yang dulunya yakin bakal menikah dengan sesama orang Indonesia, atau Asia (Jepang sih maunya—hihihi), eeeh malah dapetnya orang Jerman. Saya tuh mana pernah dulu bergaul dengan orang-orang bule… selain karena budayanya yang berbeda jauuuh, saya juga males banget ngomong bahasa Inggris panjang-lebar. Sampai sewaktu kuliah di Korea-pun teteup… maunya ya berteman sama orang-orang Asia aja. Agak-agak gimana gitu kalau ada kenalan atau teman bule yang mencoba mengajak bicara.

Sampai akhirnya saya melanjutkan studi di Jepang. Di Universitas saya waktu itu, cukup banyak juga mahasiswa/i dari Eropa yang entah sedang lanjut studi, internship, mengikuti pertukaran pelajar, ataupun sekedar studi bahasa & kebudayaan Jepang. Karena minimnya jumlah mahasiswa Indonesia di Universitas itu, akhirnya saya mulai membuka diri untuk berteman dengan sesama mahasiswa internasional yang berasal dari berbagai belahan dunia, termasuk Eropa.

Bergaul dengan banyak teman dari berbagai negara yang memiliki budaya dan sudut pandang berbeda membuat saya semakin open minded. Dari sinilah perlahan saya memberanikan diri untuk membuka hati pada pria Eropa (ehm), dan bukan hanya pada pria Asia saja—hehe… sampai akhirnya suatu hari Tuhan mempertemukan saya dengan Mr.K dan tadaaaa… setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya kami berdua bisa menikah dan live happily ever after—hihihi… diaminkan saja *fingers crossed* 🙂

Usia pernikahan saya dan Mr.K memang masih terbilang sangat muda… kurang dari 2 bulan bow… masih panjang perjalanan yang harus kami lalui berdua. Tapi teteup rasanya ingin berbagi pengalaman sebagai istri seorang pria Jerman, khususnya Mr.K, yang setelah diperhatikan terasa sangat spesial dan agak berbeda dari pengalaman sebagian teman yang menikah dengan pria Indonesia atau Asia. But don’t get me wrong, pengalaman saya ini tidak dimaksudkan untuk membanding-bandingkan ataupun menjelek-jelekkan pria Asia ya. Sekedar sharing saja… tapi kasusnya tentu berbeda untuk setiap pria (meskipun sesama orang Jerman), jadi jangan langsung dipukul rata semua ya! *peace*.

WARNING: pengalaman saya ini tidak dimaksudkan untuk membanding-bandingkan ataupun menjelek-jelekkan pria Asia. Kasusnya juga tentu berbeda untuk setiap pria (meskipun sesama bule, bahkan sesama orang Jerman), jadi tolong jangan langsung di-generalisasi.

Apa saja pengalaman yang saya rasakan? Saya ceritakan satu-persatu ya 🙂

Baca juga: My life updates 2020

Tidak diwajibkan masak setiap hari

Puji Tuhan Mr.K itu orangnya tidak ribet ya. Untuk sarapan biasanya Mr.K hanya memakan roti (toast) dengan ham atau salami dan keju. Karena menyiapkannya sangat mudah, Mr.K selalu melakukan semuanya sendirian. Saya pernah menawarkan diri untuk membuatkan toast-nya, tapi Mr.K malah menyuruh saya tidur lagi dan istirahat saja di kamar. “Ini gampang kok buatnya, I can do it by myself.” begitulah katanya—nggak ribet kan yah? Hehe.

Untuk makan siang biasanya Mr.K makan di kantor bareng bos dan rekan kerjanya. Untuk makan malam juga tidak repot… makan nasi, roti (abendbrot) atau kentang juga Mr.K happy-happy aja… kalau saya lagi malas masak malah Mr.K yang menawarkan diri untuk masak—secara Mr.K pintar masak, atau paling tidak menyiapkan salad dan daging atau sosis untuk kami berdua. Sama sekali tidak pernah mengeluh. Malah setiap kali saya masak, Mr.K selalu berterima kasih. Seolah-olah masakan saya itu sangat berharga buat dia *bersemu-merah*.

Kalau weekend, biasanya Mr.K yang masak. Masakan Mr.K selalu enak, jadi saya juga semangat menunggu giliran suami masak—hihihi. Apa lagi yang dimasak suami hari sabtu nanti ya? Pizza? Lasagna? Flammkuchen? Schnitzel? Yummy…. Kalau pas kita berdua lagi malas masak, biasanya Mr.K mengajak saya kencan di restoran Bavaria ataupun restoran Asia yang jadi favoritnya. Mungkin nanti kalau kami sudah punya baby ceritanya akan sedikit berbeda… tapi untuk sekarang beginilah yang saya alami 😉

IMG_1665 (1)
Makan bebek kriuk-kriuk di restoran Asia favorit suami saat kita berdua sedang tidak mood turun ke dapur (^_^)
IMG_1961
Salah satu masakan Italia ala suami yang super lezat. Namanya saya lupa… yang penting enak aja rasanya (^_<)
IMG_1818
Makanan ala-ala Yunani dan Prancis, plus salami dan Garlic bread yang disiapkan Mr.K untuk makan malam 🙂

Mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama-sama

Di Jerman itu hampir tidak ada yang namanya PRT yah… kecuali kalau orang tersebut amat-sangat kaya barulah bisa membayar PRT untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Jadi intinya, semua harus dilakukan sendiri, termasuk mencuci baju, mencuci piring, mengepel, menyapu lantai, menyetrika, memasak, membersihkan kamar mandi, dll.

Syukurlah di flat Mr.K tersedia berbagai mesin yang memudahkan hidup manusia, termasuk mesin cuci baju, dishwasher dan vacuum cleaner, jadi sebagian pekerjaan dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Tapi sisanya ya tetap dikerjakan dengan manual.

Saya sangat bersyukur Mr.K itu orangnya luar biasa rajin, jadi hampir semua pekerjaan rumah kami lakukan bersama, kecuali untuk menyetrika baju (saya yang kerjakan, karena Mr.K paling tidak suka menyetrika), membuang sampah (ini giliran Mr.K karena saya sejak dulu paling tidak suka membuang sampah) dan membersihkan kamar mandi (giliran Mr.K lagi karena saya lebih memilih untuk menyetrika baju saja—hehe). Pekerjaan lain seperti mem-vacuum ruangan, beres-beres ruangan, belanja, bahkan masak, dll, kami lakukan bersama-sama atau bergantian.

Tidak pernah sekalipun Mr.K mengeluh capek atau malas untuk membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari… bahkan sehabis pulang kantorpun, Mr.K selalu bertanya apa yang bisa dia bantu kerjakan. Apalagi kalau weekend… tanpa basa-basi Mr.K langsung sibuk membersihkan kamar mandi, masak ataupun mencuci baju sodara-sodara 😀 inilah wujud pria Eropa yang independen yang biasa hidup mandiri selama bertahun-tahun ^_^

Justru Mr.K komplain loh kalau melihat saya terus-terusan bekerja. Kata dia, “Enjoy your free day… go outside if you want… No need to be busy doing all the chores everyday,” trus, “you are my WIFE, NOT my HOUSEKEEPER.” Jleb. Kata-katanya mengena banget. Ternyata pikiran saya masih tradisional meskipun sudah sering jalan-jalan melihat dunia luar dan bahkan menikah dengan orang Jerman—*tepok-jidat*.

IMG_1661
Look… who’s waiting outside the Aldi Supermarket? 😀 Ini bukan labrador kami ya… hihihi… *waktu shopping kebutuhan sehari-hari bareng Mr.K.*

We are equal

Bahasa Indonesianya, kita sama, sederajat, tidak ada yang lebih superior ataupun inferior. Misal nih, meskipun Mr.K adalah kepala keluarga, tetap saja kalau memutuskan sesuatu akan didiskusikan dulu dengan saya. Tidak ada yang namanya ambil keputusan sendiri… kecuali disaat oon saya muncul ya (glek)… pas ditanya suami saya jawabnya cuma, mmm… mmm… I don’t know… nah kalau sudah begitu ya suami yang biasanya mengambil keputusan akhir.

Itupun kalau besoknya mendadak saya nggak suka, tetap saya complaint kok, dan suami malah senang karena katanya dia kan bukan mutan atau super hero, mana bisa membaca pikiran saya dengan telepati? :p selama pacaran hingga saat ini, nggak adalah yang namanya Mr.K merasa tidak dihargai hanya karena saya berani mengungkapkan unek-unek dan isi hati saya (yang seringkali terlalu jujur dan blak-blakan—hehehe). He’s still there. No matter how difficult I was.

Trus untuk masalah keuangan juga… we are still equal. Karena kami berdua bekerja (meski gaji yang saya terima di Indonesia tentunya jauuu…uuuuh lebih kecil dari gaji Mr.K), uang yang ada selalu kami gunakan bersama-sama. Nggak adalah yang namanya, “Uangku, milikku… Uangmu, milikku juga.“ (=__=). Waktu honeymoon kemarin saya juga menyumbang sekian banyak dari tabungan saya untuk digunakan bersama, jadi bukan hanya dari tabungan Mr.K saja. And I have no problem with that 🙂

Mr.K tidak pernah meminta sepeserpun uang dari saya, tapi dia sangat bersyukur saat saya mau berbagi. Yah, meskipun realitanya Mr.K lah yang lebih sering mengeluarkan uang, tapi apa yang kita miliki selalu tersedia untuk digunakan bersama.

And btw, saya tidak memegang dan mengatur gaji Mr.K. Saya tidak suka dengan kebiasaan itu… bukan gaya saya. Apalagi kalau pegang uang juga diartikan dengan mengurus semua tagihan dan juga tax (pajak) yang harus dilaporkan ke pemerintah Jerman setiap tahunnya… wooow… nyerah deh… Lari jauh-jauh!! 😀

Tidak membatasi pergaulan

Satu hal yang saya rasa sangat unik saat memiliki suami bule—dalam hal ini pria Jerman, adalah level kepercayaan Mr.K pada saya yang sangat-luar-biasa-tinggi. Mr. K tidak pernah melarang saya untuk bergaul dengan si A atau si B… atau melarang saya keluar dengan teman-teman, sekalipun teman itu cowok (pria) atau bahkan mungkin mantan pacar sekalipun! Loh? Iyaaa… beneraaan…

Mr.K selalu bilang kalau dia tidak berhak dan tidak berniat mengatur-atur pergaulan saya… tapiiii… ada tapinya ya… tentu saja Mr.K mengharapkan saya untuk bertanggung jawab terhadap trust yang diberikan dan tahu diri—begitulah istilahnya 😉 Kalau sudah menikah ya jangan selingkuh, atau menerima pernyataan cinta (misalnya) dari pria lain, atau malah berlibur diam-diam keluar kota berduaan dengan teman pria (*kacau-dunia*).

Jadi pernah saya mencoba bilang ke Mr.K bahwa saya mau berlibur ke Jepang dengan seorang teman cewek. Ini komentar Mr.K waktu itu, “If you really want to go there, then just do it…” trus.. “but first check your bank account, maybe not enough money for a holiday to Japan this year.” Gituuu… jadi secara halus Mr.K akan mengingatkan kalau tidak ada cukup uang untuk liburan… dan saya harus tahu prioritas mana yang lebih penting. Tapi seandainya saya punya cukup uang, Mr.K akan mengiyakan saya untuk pergi… tanpa banyak praduga ataupun pertanyaan yang menjebak.

Sejauh ini Mr.K tidak pernah melarang secara blak-blakan seperti, “Liburan? Ke Jepang? Berdua sama teman cewek? Kamu yakin itu teman cewek? Tapi tetep nggak boleh! Kapan-kapan aja nanti kita liburan ke Jepang berdua.”—eh ternyata sampai 10 tahun kedepan paling jauh liburan ke Dufan berdua :p hihihi…

Jadi untuk kami berdua, intinya, untuk menjalin hubungan suami-istri yang sehat, kami harus saling percaya. Kalau sejak awal sudah saling curiga satu sama lain, trus apa jadinya dimasa depan? Rumah tanggapun serasa sinetron, penuh drama. Mau sewa detektif untuk mengikuti suami seharian? Atau mengurung istri dirumah? Nah loh… kalau bukan salah satunya stress, ya pasti dua-duanya… kalau sudah begini trus… *salahkan-siapa?*

Tidak ribet dengan urusan mertua 😉

Ini nih salah satu favorit saya (hihihi).

Puji Tuhan orangtua Mr.K itu nggak ribet. Selama ini mereka tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga kami. Selain itu, saat mereka berkunjung ke rumah (biasanya seminggu atau dua minggu sekali karena tinggal dikota yang sama), saya tidak perlu repot-repot menyiapkan ini-itu. Palingan saya hanya membersihkan flat saja, kan nggak enak mau ngobrol-ngobrol sama mertua di ruangan yang kotor, apalagi berantakan.

Saya selalu menyuruh suami menanyakan pada mertua kalau-kalau mereka mau makan malam bersama selama berkunjung dirumah (maksudnya supaya saya masak, dan dengan jumlah yang tepat supaya nggak perlu membuang makanan). Tapi mertua selalu menjawab dengan tidak, tidak perlu repot-repot, mereka hanya akan singgah sebentar saja.

Dan beneran, mereka hanya singgah sebentar dan cuma mau minum saja. Itupun gelasnya mereka ambil sendiri dari lemari. Kalau saya yang ambilkan, pasti mama mantu komplain. Katanya dia kan bisa ambil sendiri… no problem… saya nggak perlu repot… gituuu… Ya sudahlah, akhirnya saya biarkan saja mereka yang kesana-kemari—hehehe (kalau di Indonesia, anak mantu cewek model begini dibilang pemalas kali ya? Atau malah dibilang nggak tahu sopan-santun? hhh). Ternyata kata suami, berhubung ortunya sudah tua, jadi mereka tidak biasa lagi makan makanan baru (kan saya kalau masak paling ya masakan Indonesia), jadi memang lebih baik tidak usah masak untuk mereka daripada ntar kenapa-kenapa… gituuu… kedengarannya memang aneh, tapi ini kenyataan.

Jadi orang Jerman tuh apa adanya… mereka tidak pernah merasa perlu basa-basi mengatakan “tidak“ didepan kita, tapi sebenarnya “iya“ di dalam hati. At least untuk kasus suami dan mertua, kalau mereka bilang A ya berarti A… kalau bilang B ya B, jangan diartikan yang lain. Coba saja kalau saya tetap ngotot masak, pasti akhirnya cuma saya dan suami juga yang makan.

Tapi…. ada tapinya juga (hehehe)… setiap kali saya dan suami berkunjung ke flat mereka, mama mantu pasti masakin macam-macam buat kami… trus enak-enak pula masakannya… apalagi fruit cake-nya… wuiihh… yummy yum! Saya sampai nambah dua piring padahal biasanya nggak kuat makan cake banyak-banyak! 😉

IMG_1560
Bunga yang dikasih mertua sebagai ucapan selamat atas penikahan kami (^_^) Ini fotonya baru diambil beberapa hari kemudian setelah bunganya agak layu… *istri-pelupa*

Harus mandiri

Ini yang wajib digaris bawahi saat menikah dengan pria bule, khususnya dengan Mr.K untuk kasus saya. Jadi Mr.K sangat mendukung—malah memberi semangat—agar saya bisa melakukan (hampir) semuanya sendirian. Hanya sehari setalah kami tiba di München (sepulangnya dari honeymoon), Mr.K langsung mengajak saya jalan-jalan ke pusat kota sambil menunjukkan pada saya cara bepergian dengan transportasi publik. Mr.K juga mengajak saya berbelanja kebutuhan sehari-hari di Rewe, Penny, Aldi, bahkan DM, sambil menunjukkan pada saya lokasi tempat-tempat tersebut.

Seminggu setelahnya, secara perlahan Mr.K mulai mendorong saya untuk jalan-jalan keluar rumah, berbelanja, ataupun sekedar melihat-lihat agar saya tidak merasa bosan selama Mr.K bekerja. Bahkan Mr.K ‘memaksa’ saya untuk menginstal aplikasi MVG—informasi tentang transportasi publik di München—di HP saya dan memasukkan nomor kartu kreditnya agar memudahkan saya untuk membeli tiket kereta, bus dan tram online.

Meski dengan semua support dan kesabaran yang Mr.K berikan (ah.. ciee…) teteup butuh waktu hampir dua minggu sebelum saya akhirnya berniat keluar rumah untuk jalan-jalan atau shopping sendirian. There’s always a first time for everything we do in life. Awalnya rada-rada khawatir bakalan nyasar atau apalah… apalagi dengan sistem transportasi U-Bahn dan S-Bahn di München yang kadang tidak sesuai dengan jadwal dan sering mengalami interupsi (agak berbeda dengan sistem transportasi subway dan JR train di Jepang yang sepertinya bisa lebih diandalkan).

Setelah mencoba keluar dan jalan-jalan sendirian pertama kalinya, akhirnya saya mulai memahami sistem transportasi publik di München. Pokoknya kalau ada pengumuman (dalam bahasa Jerman yang tidak saya mengerti) dan keluar tulisan “Nicht einsteigen“ di layar informasi, langsung saja mengikuti kerumunan orang lainnya untuk pindah kereta atau pindah platform. Simple. Kalau salah naik kereta ya sudahlah… nggak usah pakai adegan panik… anggap saja jalan-jalan diluar rencana… seperti kata Mr.k, “We are flexible…” hihihi.

Jadi intinya, harus mandiri. Kalau bosan dirumah ya belajar cara menggunakan transportasi publik atau mungkin menyetir mobil. Jangan berharap suami akan selalu mengantar-jemput atau bahkan menemani. Kalau ingin melakukan A atau B, ya belajar gimana caranya. Mr.K juga lebih tenang saat melihat saya tidak lagi merasa bosan karena ‘terkurung’ dirumah seharian 🙂

IMG_1877
U-bahn (subway train) di München yang terkadang mengalami perubahan jadwal dan interupsi.
IMG_2307
jalan-jalan sendirian ke Olympiapark menikmati matahari yang bersinar cerah di musim panas (^_^)

Wah, ini kok panjang banget cerita-nya… sampai perut lapar dan capek pula ngetiknya. Jadi wokelah, sampai disini saja pengalaman-pengalaman yang bisa saya bagi. Kalau besok-besok ada waktu luang untuk sharing beberapa poin lainnya, akan saya coba ketik lagi.

Tschüss…

Baca juga: Honeymoon in Bali & Portugal

Top 13 gaya pacaran orang jerman menjelaskan Noi That Moi

Nikah dengan Bule Jerman, Wanita Ini Ungkap Kekhawatiran Sang Ayah Soal Status Sosial

  • Penulis: merdeka.com
  • Tanggal Terbit: 07/04/2022
  • Ulasan: 4.94 (840 vote)
  • Ringkasan: Merdeka.com – Sebagian besar pasangan kekasih memiliki impian untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Sebelum mewujudkannya, masing-masing …

Perbedaan Sikap dan Budaya Orang Jerman dan Indonesia

  • Penulis: metafor.id
  • Tanggal Terbit: 07/16/2022
  • Ulasan: 4.43 (531 vote)
  • Ringkasan: Kalau orang sini pacaran, mereka biasanya juga bakalan tinggal satu rumah. Di sini hal semacam itu merupakan hal yang biasa. Jika mereka punya …
  • Hasil pencarian yang cocok: Nah, untuk tulisan kali ini saya cukupkan dulu, ya. Mungkin nanti kalau ada pertanyaan lagi, silakan boleh DM Instagram saya. Kalau pas sempat dan tidak sedang kelelahan bekerja, kemungkinan akan saya share lagi cerita-cerita seputar Jerman. Selamat …

Hal Menarik tentang Pria Jerman

Hal Menarik tentang Pria Jerman
  • Penulis: liwunfamily.com
  • Tanggal Terbit: 06/16/2022
  • Ulasan: 4.28 (240 vote)
  • Ringkasan: . Saya Mii dan saya punya pacar orang Jerman. Saya dan dia pacaran menuju arah yg lbh serius tapi saya masih bingung apa benar dia yakin untuk …
  • Hasil pencarian yang cocok: Deutschland adalah negri bagi para pemikir dan pujangga. Goethe salah satunya. Romantis itu relatif meski tidak seperti pria Perancis dan Italia, tetapi pria jerman punya cara tersendiri untuk menunjukkan sisi romantisnya. Tak melulu soal kata-kata …

Ekonomi Jerman Tumbuh 0,1 Persen pada Kuartal II 2022

  • Penulis: cnnindonesia.com
  • Tanggal Terbit: 03/03/2022
  • Ulasan: 4.14 (580 vote)
  • Ringkasan: Lindner mengatakan 48 juta orang Jerman akan menghadapi pajak yang lebih tinggi mulai Januari 2023 jika tidak ada keringanan yang ditawarkan …

Cinta Beda Negara, Gadis Atambua Mengaku Enak Pacaran Dengan Bule, Gas Full

  • Penulis: victorynews.id
  • Tanggal Terbit: 06/18/2022
  • Ulasan: 3.79 (448 vote)
  • Ringkasan: KUPANG, VICTORYNEWS – Yohana, gadis Atambua, NTT membagikan pengalamannya berpacaran dengan Bule Jerman, Peter dalam Cinta Beda Negara.

Menikah dengan Lelaki Jerman Saat Pandemi

  • Penulis: dw.com
  • Tanggal Terbit: 10/29/2022
  • Ulasan: 3.69 (380 vote)
  • Ringkasan: Pada saat aku menyampaikan kekhawatiranku ini pada pasanganku yang orang Jerman, dia bilang “Itu benar lo yang dibilang temanmu”. Aku jadi …
  • Hasil pencarian yang cocok: Dapat kuingat dengan baik perjalanan hubungan kami. Bertemu di Pantai Sanur, Bali, untuk pertama kalinya. Di sebuah malam saat aku sedang membuat janji berkumpul dengan teman-temanku yang tinggal di Bali. Temanku mengajaknya ikut serta, saat itulah …

5 Hal yang Perlu Kamu Tahu tentang LDR Jerman-Indonesia

5 Hal yang Perlu Kamu Tahu tentang LDR Jerman-Indonesia
  • Penulis: lpdp-jerman.org
  • Tanggal Terbit: 04/23/2022
  • Ulasan: 3.48 (437 vote)
  • Ringkasan: Orang-orang di Jerman sangattt produktif. Saat kerja, mereka ngga pegang HP sama sekali. Mental efektifitasnya tinggi banget nget nget. Saat jam …
  • Hasil pencarian yang cocok: Di Indonesia, aku tidak pernah punya power bank -punyanya cuma power point­ plus dulu suka nonton power rangers- dan tidak pernah khawatir hapeku akan habis batere kala beraktifitas sehari-hari karena colokan di Indonesia itu bertebaran dimana-mana …

Punya Istri Orang Indonesia, Bule Jerman Ini Jago Banget Masak Nasi

  • Penulis: dream.co.id
  • Tanggal Terbit: 09/17/2022
  • Ulasan: 3.37 (488 vote)
  • Ringkasan: Dream – Menikah memang seperti menyatukan dua budaya, apalagi jika suami istri beda negara. Seperti pemilik akun Instagram @naysimie, …

Langgeng Terus, Ini 10 Artis yang Menikah dengan Keturunan Jerman

  • Penulis: popbela.com
  • Tanggal Terbit: 11/16/2022
  • Ulasan: 3.05 (591 vote)
  • Ringkasan: Sebagian artis Indonesia ternyata menikah dengan laki-laki atau perempuan keturunan Jerman. Latar belakang yang berbeda tak menjadi penghalang berarti, …

Tanda Kalau Cowok Jerman Tertarik Padamu

  • Penulis: kukchelanguages.com
  • Tanggal Terbit: 08/31/2022
  • Ulasan: 2.82 (168 vote)
  • Ringkasan: Budaya pacaran orang Eropa (nggak hanya di Jerman doank), pergi dan makan kemana aja bayar sendiri-sendiri. Cowok Jerman itu suka cewek yang …

Jerman Disanksi FIFA atas Aksi Tutup Mulut?

  • Penulis: sport.detik.com
  • Tanggal Terbit: 03/15/2022
  • Ulasan: 2.81 (143 vote)
  • Ringkasan: Caranya, Jerman berniat mengenakan ban kapten pelangi One Love di Piala Dunia 2022 Qatar. Namun FIFA melarangnya, sehingga Jerman membuat protes …

Viral Gadis Bengkulu Dinikahi Bule Jerman, Putuskan Mualaf, Belajar Salat & Ngaji, Sempat Jalani LDR

  • Penulis: newsmaker.tribunnews.com
  • Tanggal Terbit: 08/23/2022
  • Ulasan: 2.63 (98 vote)
  • Ringkasan: Pada awal pacaran, Liya masih berstatus mahasiswi dan sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Selama menjalin hubungan, ia dan kekasihnya sering …

“Dekil, Jelek, Hitam, Pesek?”- YouTuber Indonesia di Jerman ini Gugat Standar Semu Kecantikan

  • Penulis: tempo.co
  • Tanggal Terbit: 03/26/2022
  • Ulasan: 2.67 (70 vote)
  • Ringkasan: Di Indonesia sudah sering dengar kata-kata seperti itu. Bahkan, sebelum pacaran, menikah dengan suami saya yang orang Jerman ini, juga sudah …
  • Hasil pencarian yang cocok: Semakin lama Trisna baru semakin menyadari bahwa cantik itu tidak harus berkulit putih. Apalagi ketika Trisna mulai tinggal di Jerman, “Di sini saja orang-orang, yang putih natural saja, mereka setiap musim panas bahkan suka berjemur biar dapat …

Sumber: https://noithatmoi.org
Kategori: Komputer